Pages

judul lainnya

pujian

Ayo saling berbagi ilmu !!!

laporan lain

Showing posts with label mikrobiologi umum. Show all posts
Showing posts with label mikrobiologi umum. Show all posts

Tuesday, 3 November 2015

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUMTEKNIK BIAKAN MURNI

A. Latar Belakang
Dalam teknik biakan murni tidak saja diperlukan bagaimana memperoleh suatu biakan yang murni, tetapi juga bagaimana memelihara serta mencegah pencemaran dari luar. Media untuk membiakkan bakteri haruslah steril sebelum digunakan. Pencemaran terutama berasal dari udara yang mengandung banyak mikroorganisme. Pemindahan biakan mikroba yang dibiakkan harus sangat hati-hati dan mematuhi prosedur laboratorium agar tidak terjadi kontaminasi. Oleh karena itu, diperlukan teknik-teknik dalam pembiakan mikroorganisme yang disebut dengan teknik inokulasi biakan (Dwijoseputro, 2002).
Teknik inokulasi merupakan suatu pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Dengan demikian akan diperoleh biakan mikroorganisme yang dapat digunakan untuk pembelajaran mikrobiologi. Pada praktikum ini akan dilakukan teknik inokulasi biakan mikroorganisme pada medium steril untuk mempelajari mikrobiologi dengan satu kultur murni saja.
Isolasi bakteri merupakan suatu cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungan sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu dengan cara goresan (streak plate), cara tuang (pour plate), cara sebar (spread plate), dan mikromanipulator ( Buckle,2001).
Persyaratan utama bagi isolasi dan kultivasi fage adalah harus adanya kondisi optimum untuk pertumbuhan organisme inangnya. Sumber bakteriofage yang paling baik dan paling utama adalah habitat inang. Sebagai contoh fage koli yang dijumpai di dalam pencernaan dapat diisolasi dari limbah atau pupuk kandang. Hal ini dilakukan dengan sentifugasi atau filtrasi bahan sumbernya dan penambahan kloroform untuk membunuh sel-sel bakterinya (Adams, 2000).
Pengembangan dalam cawan petri ada beberapa metode, yaitu: Metode Cawan Gores (Streak Plate)Prinsip metode ini yaitu mendapatkan koloni yang benar-benar terpisah dari koloni yang lain, sehingga mempermudah proses isolasi. Cara ini dilakukan dengan membagi 3-4 cawan petri. Ose steril yang telah disiapkan diletakkan pada sumber isolat , kemudian menggoreskan ose tersebut pada cawan petri berisi media steril. Goresan dapat dilakukan 3-4 kali membentuk garis horisontal disatu cawan. Ose disterilkan lagi dengan api bunsen. Setelah kering, ose tersebut digunakan untuk menggores goresan sebelumnya pada sisi cawan ke dua. Langkah ini dilanjutkan hingga keempat sisi cawan tergores.
Begitu pentingnya teknik bikakan murni ini dalam study mikrobiologi umum agar kita dapat mengidentifikasi dan meneliti suatu mikroba dengan pertumbuhan yang diinginkan.
Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari teknik penggoresan untuk memperoleh biakan murni.
















TINJAUAN PUSTAKA
Identifikasi biakan mikroorganisme seringkali memerlukan pemindahan ke biakan segar tanpa terjadi pencemaran. Pemindahan mikroorganisme ini dilakukan dengan teknik aseptik untuk mempertahankan kemurnian biakan selama pemindahan berulangkali. Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dalam biakan cair atau padat. Kekeruhan dalam kaldu menunjukkan terjadinya pertumbuhan mikroorganisme. Bila mikroorganisme menumpuk pada dasar tabung maka akan membentuk sedimen, sedangkan pada permukaan kaldu pertumbuhannya terlihat sebagai pelikel (Lay, 2000).
Pertumbuhan mikroorganisme dalam kaldu seringkali menggambarkan aktivitas metabolismenya. Mikroba aerob obligat berkembang biak pada lapisan permukaan karena pada bagian ini kandungan oksigen tinggi. Selain dalam media cair, mikroorganisme juga memperlihatkan pertumbuhan dengan ciri tertentu dalam biakan padat seperti agar miring atau lempengan agar. Agar miring lazimnya digunakan untuk menyimpan biakan murni sedangkan agar lempengan lazimnya digunakan untuk memurnikan mikroorganisme (Lay, 2000).
Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi) terlebih dahulu diusakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya dengan medium agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi (Dwijoseputro, 2002).
Ada beberapa tahap yang harus dilakukan sebelum melakukan teknik penanaman bakteri (inokulasi) yaitu :
1. Menyiapkan ruangan
Ruang tempat penanaman bakteri harus bersih dan keadannya harus steril agar tidak
terjadi kesalahan dalam pengamatan atau percobaaan .dalam labotarium pembuataan
serum vaksin dan sebagainya. Inokulasi dapat dilakukan dalam sebuah kotak kaca
(encast) udara yang lewat dalam kotak tersebut dilewatkan saringan melalui suatu jalanagar tekena sinar ultraviolet (Pelczar, 2001).
2. Pemindahan dengan dengan pipet
Cara ini dilakukan dalam penyelidikan air minum atau pada penyelidikan untuk diambil
1 ml contoh yang akan diencerkan oleh air sebanyak 99 ml murni (Pelczar, 2001).
3. Pemindahan dengan kawat inokulasi
Ujung kawat inokulasi sebaliknya dari platina atau nikel .ujungnya boleh lurus juga boleh berupa kolongan yang diametrnya 1-3mm. Dalam melakukuan penanaman bakterikawat ini terlebih dahulu dipijarkan sedangkan sisanya tungkai cukup dilewatkan nyala api saja setelah dingin kembali kawat itu disentuhkan lagi dalam nyala (Pelczar, 2001).
Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi biakan murni
mikroorganisme yaitu :
Metode gores
Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu, tetapi memerlukan ketrampilan-ketrampilan yang diperoleh dengan latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Inokulum digoreskan di permukaan media agar nutrien dalam cawaan petri dengan jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni (Winarni, 2003).
Cara penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk lempeng. Bila dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling praktis. Dalam pengerjaannya terkadang berbeda pada masing-masing laboratorium tapi tujuannya sama yaiitu untuk membuat goresan sebanyak mungkin pada lempeng medium pembiakan (Kus Irianto, 2006)
Ada beberapa teknik dalam metode goresan, yakni :
a. Goresan T
b. Goresan kuadran
c. Goresan Radian
d. Goresan Sinambung
Metode tebar
Setetes inokolum diletakan dalam sebuah medium agar nutrien dalam cawan
petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang bengkok dan steril. Inokulasi itu disebarkan dalam medium batang yang sama dapat digunakan dapat menginokulasikan pinggan kedua untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang merata dengan baik. Pada beberapa pinggan akan muncul koloni koloni yang terpisah-pisah (Winarni, 2004).
Metode tuang
Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran. Dasar melakukan
pengenceran adalah penurunan jumlah mikroorganisme sehingga pada suatu saat hanya ditemukan satu sel di dalam tabung (Winarni, 2004).
Metode tusuk
Metode tusuk yaitu dengan dengan cara meneteskan atau menusukan ujung jarum ose yang didalamnya terdapat inokolum, kemudian dimasukkan ke dalam media(Winarni, 2004).
Perbedaan Inokulasi Jamur dan Bakteri
Perbedaan Inokulasi Jamur dan Bakteri adalah :
1. Inokulasi jamur menggunakan jarum ose bentuk batang. Hifa yang berbentuk seperti
benang mudah diambil dengan jarum ose batang dan mudah sekali tumbuh di dalam
suatu media.
2. Inokulasi bakteri menggunakan jarum ose bentuk bulat. Pada ujung jarum ose yang
berbentuk bulat, bakteri akan dapat terambil dalam jumlah yang relatif banyak
(Rohimat, 2002).
Macam-Macam Media
Ada beberapa macam media yang digunakan untuk inokulasi yaitu :
1.Mixed culture: berisi dua atau lebih spesies mikroorganisme
2. Plate culture: media padat dalam petridish
3. Slant culture : media padat dalam tabung reaksi
4. Stap culture : media padat dalam tabung reaksi, tetapi penanamannya dengan cara
penusukan.
5. Liquid culture : media cair dalam tabung reaksi.
6. Shake culture: media cair dalam tabung reaksi yang penanamannya dikocok.
(Dwijoseputro, 2002).




































III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu Dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 30 November 2011 pukul 13.00 sampai dengan selesai di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya.
B. Alat Dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1) Bunsen, 2) Cawan petri, 3) Inkubator, 4) Jarum ose, 5) Tabung reaksi.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1) bekasam 2) cuka 3) lactobacillus.
C. Cara Kerja
Cara kerja pada praktikum teknik biakan murni ini adalah sebagai berikut :
Lempengan dibagi menjadi 3 bagian dangan membentuk huruf T pada bagian luar dasar cawan
Inokulasi daerah I sebanyak mungkin dengan gerakan sinambung
Panaskan jarum ose dan biarkan dingin kembali
Gores ulang daerah I sebanyak 3-4 kali dan teruskan gesekan di daerah II
Pijarkan ose dan biarkan dingin kembali
Ulangi prosedur 3-5 untuk menggores daerah III
B. Pembahasan
Teknik biakan murni adalah sebuah usaha yang dapat kita lakukan untuk mempermudah kita dalam meneliti atau mengidentifikasi suatu jenis bakteri. Tujuan utama dari penggoresan dalam teknik biakan murni adalah untuk menghasilkan koloni-koloni bakteri yang  terpisah dengan baik dari suspensi sel yang pekat. Cara ini lebih menguntungkan bila  ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu, tapi memerlukan ketrampilan yang diperoleh  dengan latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah.
Pada penggunaan metode gores dengan medium agar datar, mula –mula disiapkan media biakan induk dari jenis mikroorganisme bakteri. Pada medium biakan induk, koloni bakteri tampak berwarna putih. Disediakan  sebuah cawan petri steril berisi medium agar padat (medium agar yang sebelumnya telah dipanaskan, dituagkan pada cawan petri steril, kemudian didiamkan untuk proes pendinginan). Medium agar datar ini berwarna kekuningan, berfungsi sebagai tempat menggoreskan bakteri dan tempat pertumbuhan koloni bakteri. Selanjutnya dipanaskan jarum ose  hingga membara, berfungsi untuk mensterilisasi jarum sebelum digunakan dari mikroorganisme lain. Sumbat kapas tabung reaksi yang berisi isolasi biakan induk dibuka. Kemudian dimasukkan jarum ose pada medium biakan induk dimana yang digunakan adalah jarum ose bentuk bulat, pengambilan inokulum dengan menggoreskan ujung bulat pada jarum ke media biakan induk, memungkinkan bakteri dapat terambil banyak. Setelah itu tabung reaksi segera ditutup dengan sumbat kapas. Digunakan sumbat kapas disini karena sifatnya yang dapat menyerap uap air, yang terjadi ketika masa inkubasi. Setiap perlakuan diusahakan dilakukan secara aseptis (di dekat api bunsen) berfungsi agar saat inokulasi, tidak ada mikroorganisme kontaminan. Sebelum inokulasi juga terlebih dahulu harus diusahakan agar semua alat-alat yang digunakan dan medium benar-benar steril.
Hal ini untuk menghindari kontaminasi yaitu masuknya mikroorganisme yang tidak diinginkan. Selanjutnya digoreskan inokulum di permukaan media agar di dalam cawan petri yang telah disediakan dengan menggunakan metode gores mulai dari sisi samping secara merata. Media agar untuk bakteri digunakan media NA (Nutrien Agar), fungsi penggunaan medium NA karena komposisinya yang terdiri dari ekstrak daging sapi didalamnya yang mengandung protein, karbohidrat, vitamin, dan sedikit lemak, juga terdapat adanya faktor pertumbuhan yang tidak mampu disintesis mikroorganisme. cawan petri  yang diisolasi dengan selotip bening  berfungsi untuk mensterilisasi cawan petri dari mikroorganisme lain.
Inokulum disimpan ke dalam inkubator dengan posisi terbalik, diamati bentuk koloni yang terbentuk setelah diinkubasi selama 2x 24 jam dan 4 x 24 jam. Posisi cawan petri diletakkan terbalik karena selama inkubasi terbentuk air yang mengembun di dalam cawan petri. Air akan menetes dari tutup cawan ke permukaan. Hal ini akan menghasilkan suatu masa pertumbuhan yang menganak sungai dan menghancurkan pembentukan koloni secara individu. Untuk menghindari hal ini, maka ketika diinkubasi, bagian bawah cawan petri diletakkan di atas
atau terbalik .
Metode gores yang dilakukan pada percobaan ini dengan menggunakan cawan petri. Cawan petri ini berfungsi berfungsi sebagai tempat madium agar datar untuk penanaman mikroorganisme dan tempat isolasi. Keuntungan penggunaan cawan petri adalah untuk memperoleh biakan dengan jumlah yang banyak dan lebih mudah untuk melihat morfologi biakan.




KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah kita lakukan, dapat disimpulkan bahwa :
Teknik biakan murni digunakan untuk meneliti dan identifikasi bakteri
Salah satu teknik yang digunakan adalah teknik goresan T.
Jarum ose mempunyai peran yang sangat penting, praktikum tidak akan terlaksana tanpa adanya jarum ose.
Sebelum digunakan jarum ose harus disterilisasi dengan bunsen.
Media yang digunakan adalah plate count agar
Teknik yang digunakan dalam pembuatan medai adalah teknik agar miring dan agar datar,













DAFTAR PUSTAKA
Adams.2000. Analisis Kualitatif Bakteri Koliform Pada Depo Air Minum Isi Ulang
Di Kota Singaraja Bali. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol 3 No 1, April
2004 : 64 – 73.
Buckle.2001. Foodborne Microorganisms of Public Health Significance. 4ed.. AIFST
(NSW Branch).Australia.
Dwijoseputro.2002.Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan : Jakarta.
Kus Irianto.2006.pengantar mikrobiologi umum.PT gramedia pustaka utama: jakarta.
Lay.2000. Microbiology: a Laboratory Manual. Adison-Wesley Publishing company:
California
Pelczar.2001. Dasar-Dasar Mikrobiologi I. Erlangga : Jakarta .
Rohimat.2002 .Mikrobiologi umum. UMM Press, Malang.
Winarni.2003. Ilmu Pangan. Penerbit Universitas Indonesia (UI Press) :Jakarta.
Winarni.2004. Diktat Teknik Fermentasi. Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS :
Surabaya.

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUMPERHITUNGAN MIKROORGANISME

A. Latar Belakang
Mikroorganisme tersebar luas di alam lingkungan dan sebagai akibatnya produk pangan jarang sekali steril dan umumnya tercemar oleh berbagai jenis mikroorganisme. Bahan pangan selain merupakan sumber gizi bagi manusia juga sebagai sumber makanan bagi perkembangan mikroorganisme. Pertumbuhan atau perkembangan mikroorganisme dalam makanan sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia dan akibat dari hubungan (Buckle et al., 1987)
Sekarang ini mikroba tidak hanya bersifat merugikan, tetapi juga ada suatu mikroorganisme tertentu yang berguna dalam proses pengolahan seperti halnya dalam proses fermentasi contohnya saja Lactobacillus sake yang merupakan bakteri asam laktat dalam pembuatan sakei, juga ada Saccharomyces cereviceae dalam pembuatan tapai dan tempe memerlukan bantuan jamur Rhizopus oligosporus untuk proses pembentukkannya.
Dalam bidang mikrobiologi kita mempelajari banyak segi mengenai jasad-jasad renik yang biasa dinamakan miroba atau protista, dimana adanya  ciri-ciri dan kekerabatan antara sesamanya seperti juga dengan kelompok organisme lainnya, pengendaliannya, dan peranannya dalam kesehatan serta kesejahteraan kita. Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita, beberapa diantaranya bermanfaat dan yang lainnya merugikan. Banyak di antaranya menjadi penghuni dalam tubuh manusia. Beberapa mikroorganisme menyebabkan penyakit dan yang lain terlibat dalam kegitan manusiasehari-hari seperti misalnya pembuatan keju, yogurt, produksi penisilin serta proses perlakuan yang berkaitan dengan pembuangan limbah (Pelczar dan Chan, 1986).
Mikroba merupakan mahluk hidup yang mempunyai bentuk dan ukuran yang sangat kecil, serta sifat hidup yang berbeda dengan jasad hidup lain. Untuk meneliti dengan teliti mikroba ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang tetapi dengan menggunakan alat bantu pembesar seperti lup atau mikroskop (Suriawiria, 1995).
Mikroorganisme terdapat di mana-mana, dari dasar laut sampai ke puncak-puncak gunung berselimutan es, di mata-mata air belerang panas, dalam tanah dan debu, di udara,l dalam air dan susu, maupun pada permukaan jaringan tubuh kita sendiri. Pendeknya di segala macam tempat serta lingkungan di muka bumi ini. Sesungguhnya memang manusia dikelilingi oleh mikroba. Mikroba yang sering manusia jumpai yaitu jenis bakteri, yeast, dan jamur (Hadioetomo, 1983).
Tujuan
Tujuan praktikum perhitungan mikroorganisme ini adalah untuk mengetahui  jumlah koloni yang terdapat pada bahan yang digunakan.

















TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengenceran dan Penanaman
Salah satu cara yang mudah untuk menghitung jumlah mikroba adalah dengan melakukan pengenceran. Cara ini dengan menyiapkan beberapa tabung reaksi yang berisi 9 ml aquadest steril. Kepada masing-masing tabung kemudian ditambahkan     1 ml sampel yang mau diperiksa secara bertahap, yaitu :
1 ml sampel ke dalam tabung pertama, hingga konsentrasi larutan di dalam tabung pertama menjadi 10-1.
1 ml dari tabung pertama ke tabung kedua, hingga konsentrasi larutan di dalam tabung kedua menjadi 10-2.
Dan seterusnya sampai mencapai larutan dengan konsentrasi terendah (Suriawiria, 1995).
Sebelum menumbuhkan mikroorganisme dengan sebaik-baiknya, pertama-tama harus memahami kebutuhan dasarnya lalu mencoba memformulasikan suatu medium yang memberikan hasil terbaik. Medium di sini ialah bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di atas atau di dalamnya (Hadioetomo, 1995)
Konsistensi medium dapat dibuat bermacam-macam bergantung kepada keperluannya. Misalnya, medium cair seperti kaldu nutrien atau kaldu glukosa dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti pembiakan organisme dalam jumlah besar, penelaah fermentasi, dan berbagai macam uji. Bila diinginkan medium padat, dapat ditambahkan bahan pemadat ke dalam medium kaldu. Medium padat biasanya digunakan untuk mengamati penampilan atau morfologi koloni dan mengisolasi  biakan murni. Sedangkan medium dengan konsistensi pertengahan disebut medium setengah padat; kegunaannya antara lain ialah untuk menguji ada tidaknya motilitas dan kemampuan fermentansi. Medium setengah padat seringkali mengandung baik gelatin maupun agar-agar namun dalam konsentrasi lebih kecil daripada medium padat (Hadioetomo, 1995). 
Penanaman dilakukan sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan ke dalam cawan petri yang berisi media padat. Pertumbuhan koloni yang kemudian timbul pada tiap-tiap cawan, dihitung. Di dalam cara perhitungan ini harus diperhitungkan faktor kerapatan pertumbuhan koloni karena jika pertumbuhan terlalu rapat, biasanya sulit untuk dipertanggungjawabkan hasilnya. Juga pertumbuhan yang terlalu jarang sehingga diperlukan adanya pemilihan cawan yang ditumbuhi koloni yang paling tinggi kemungkinannya (Suriawiria, 1995).
Meskipun persyaratan nutrien mikroorganisme amat beragam, namun sebagai makhluk hidup mereka mempunyai kebutuhan dasar yang sama, yaitu meliputi air, karbon, energi, mineral, dan faktor tumbuh.
Perkembangbiakan mikroba dapat terjadi secara aseksual (yang paling umum) dan secara seksual (terjadi pada beberapa individu saja). Pada bakteri misalnya, perkembangbiakan secara aseksual terjadi secara pembelahan biner, yaitu satu sel induk membelah menjadi dua sel anak. Kemudian masing-masing sel anak akan membentuk dua sel anak lagi dan seterusnya hingga makin membanyak. Selama sel membelah maka akan terjadi keselarasan replikasi DNA sehingga tiap-tiap sel anak akan menerima paling sedikit satu salinan genom dimana kecepatan pembelahan ditentukan dengan waktu generasi dari suatu mikrobia tertentu (Suriawiria, 1995).
Bagi organisme bersel tunggal, air amat penting artinya karena antara lain merupakan komponen utama protoplasma (70-85% protoplasma terdiri dari air), serta bagi masuknya nutrien ke dalam sel dan keluarnya sekresi ataupun ekresi dari dalam sel. Di samping itu juga air juga diperlukan untuk berlangsungnya reaksi-reaksi enzimatik di dalam sel, di dalam pembuatan medium sebaiknya digunakan air suling. Air sadah pada umumnya mengandung pepton dan ekstrak daging, air dengan kualitas semacam ini dpat menyebabkan terbentuknya endapan fosfat dan magnesium fosfat.
Berdasarkan kepada pola kehidupan, khususnya kepada sumber nutrien dan enrgi serta oksigen, maka kehidupan mikroba terbagi kedalam beberapa kelompok tertentu seperti autotrofik dan heterotrofik, yaitu pola kehidupan berdasarkan kepada kebutuhan terhadap sumber C (karbon) dan energi sehingga dikenal mikroba aututrofik, yang memrlukan sumber C di dalam bentuk senyawa anorganik seperti CO2 atau karbonat dan mikroba heterotrofik yang memerlukan sumber C di dalam bentuk senyawa organik. Selain itu, pembagian golongan mikroba juga terdiri dari golongan aerobik, anaerobik dan anaerobik fakultatif (Suriawiria, 1995).
B. Perhitungan mikrobia
Pengukuran kuantitatif populasi mikrobia sering kali diperlukan di dalam berbagai macam penelaahan mikrobiologis. Pada hakikatnya terdapat 2 macam pengukuran dasar, yaitu penentuan jumlah sel dan penentuan massa sel. Pengukuran jumlah sel biasanya dilakukan bagi organisme bersel tunggal (misalnya bakteri), sedangkan penentuan massa sel dapat dilakukan tidak hanya bagi organisme bersel tunggal tetapi juga bagi organisme berfilamen (misalnya jamur).
Ada berbagai macam cara untuk mengukur jumlah sel, antara lain dengan hitungan cawan (plate count), hitungan mikroskopis langsung (direct microscopic count), atau secara elektronis dengan bantuan alat yang disebut penghitung coulter (coulter counter). Cara lain untuk menentukan jumlah sel ialah dengan menyaring sampel dengan suatu saringan membran.
Pada metode hitungan mikroskopis langsung seperti hemasitometer, jumlah sel dapat ditentukan secara langsung dengan bantuan mikroskop. Keuntungan metode ini ialah pelaksanaannya cepat dan tidak memerlukan banyak peralatan. Namun kelemahannya ialah tidak membedakan sel-sel yang hidup dan sel-sel yang mati, dengan kata lain hasil yang diperoleh ialah jumlah total yang ada di dalam populasi.
III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19 Oktober 2011 pukul 13.00 sampai dengan pukul 15.00 di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: 1) , 2) erlenmeyer, 3) hot plate, 4) mikro pipet, 5) stearer.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1) Air Comberan, 2) Air Galon, 3) aquadest, 4) Nasi, 5) Nasi Basi, 6) PCA
Cara kerja
Cara kerja praktikum pengenalan alat ini adalah :
Sediakan alat-alat yang akan digunakan.
Alat-alat yang telah disediakan tersebut akan di jelaskan asisten bagaimana fungsi dari setiap alat
Masing-masing alat tersebut digambar dan dicatat fungsinya.


B. Pembahasan
Mikroorganisme adalah mahluk hidup yang sangat kecil yang ada di alam ini. Karena sangat kecil ini, maka untuk melihat dan menghitung mikrobia cukuplah sulit jika tidak mengunakan alat bantu dan metode tertentu. Cara mudah melihat mikroorganisme adalah dengan menggunakan mikroskop, tetapi untuk menghitungnya terdapat dua metode yang dinamakan metode hitungan cawan dan metode hitungan mikroskopis langsung. Metode yang dipakai dalam praktikum ini adalah metode hitungan cawan yang sebelumnya dilakukan proses pengenceran.
Pengenceran dimaksudkan untuk mempermudah perhitungan jumlah koloni mikrobia dan untuk menghemat bahan yang digunakan. Pengenceran disesuaikan dengan konsentrasi yang diinginkan dimana pengenceran yang dilakukan ini sampai pengenceran dengan konsentrasi 10-7 , tetapi yang ditanam ke dalam cawan petri yaitun pada konsentrasi 10-5 dan 10-7.
Diketahui jumlah mikrobia pada konsentrasi 10-5 lebih banyak daripada 10-7, hal ini menandakan makin sedikit kita melakukan pengenceran makin banyak jumlah koloni dari suatu mikrobia begitupun sebaliknya. Medium agar yang digunakan untuk pertumbuhan mikrobia adalah NA, PGYA, dan PDA yang ternyata pada medium NA jumlah mikrobia ditemukan. Hal ini mungkin pada medium NA ketersediaan nutriennya lebih banyak dibandingkan medium agar lain.
Praktikum ini menggunkan cara yang kedua yaitu Spread plate yang masa inkubasi mikrobanya selama 24 jam dan 48 jam. Jenis mikroba yang tumbuh adalah bakteri, yeast, dan jamur. Pertumbuhan bakteri, yeast, dan jamur ini sangat cepat karena ketiganya mempunyai waktu generasi yang berbeda-beda. Bakteri lebih cepat waktu generasinya dibanding yeast dan jamur lebih lambat waktu generasinya dibanding yeast.
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah kita lakukan, dapat disimpulkan bahwa :
Penghitungan jumlah mikrobia dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penghitungan mikrobia secara langsung dan penghitungan mikrobia secara tidak langsung.
Untuk penghitungan mikrobia secara tidak langsung, semakin besar volume pengenceran, maka jumlah koloni bakteri yang diperoleh akan semakin sedikit.
Penghitungan jumlah mikrobia secara tidak langsung dipakai untuk menentukan jumlah mikrobia secara keseluruhan dalam suatu cawan, baik mikrobia yang hidup maupun mikrobia yang mati.
Ada berbagai macam cara mengukur jumlah sel, antara lain dengan hitungan cawan (plate count), hitungan mikroskopis langsung (direct microscopis count), atau secara elektronis dengan bantuan alat yang disebut perhitungan coulter (coulter count).
Dari hasil pengamatan diperoleh data bahwa jumlah koloni mikroorganisme yang terdapat pada air comberan paling sedikit. Sedangkan jumlah koloni mikroorganisme yang banyak terdapat pada nasi makan.





DAFTAR PUSTAKA
Buckle K.A., R.A. Edward, G.H. Fleet, dan M. Wootton. 1987. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia. Jakarta.
Hadioetomo, RS. 1983. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT.Gramedia. Jakarta.
Pelczar MJ dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Universitas Indonesia. Jakarta.
Suriawiria, U. 1995. Pengantar Mikrobiologi Umum. Angkasa. Bandung.

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUMPERHITUNGAN MIKROORGANISME

A. Latar Belakang
Mikroorganisme tersebar luas di alam lingkungan dan sebagai akibatnya produk pangan jarang sekali steril dan umumnya tercemar oleh berbagai jenis mikroorganisme. Bahan pangan selain merupakan sumber gizi bagi manusia juga sebagai sumber makanan bagi perkembangan mikroorganisme. Pertumbuhan atau perkembangan mikroorganisme dalam makanan sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia dan akibat dari hubungan (Buckle et al., 1987)
Sekarang ini mikroba tidak hanya bersifat merugikan, tetapi juga ada suatu mikroorganisme tertentu yang berguna dalam proses pengolahan seperti halnya dalam proses fermentasi contohnya saja Lactobacillus sake yang merupakan bakteri asam laktat dalam pembuatan sakei, juga ada Saccharomyces cereviceae dalam pembuatan tapai dan tempe memerlukan bantuan jamur Rhizopus oligosporus untuk proses pembentukkannya.
Dalam bidang mikrobiologi kita mempelajari banyak segi mengenai jasad-jasad renik yang biasa dinamakan miroba atau protista, dimana adanya  ciri-ciri dan kekerabatan antara sesamanya seperti juga dengan kelompok organisme lainnya, pengendaliannya, dan peranannya dalam kesehatan serta kesejahteraan kita. Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita, beberapa diantaranya bermanfaat dan yang lainnya merugikan. Banyak di antaranya menjadi penghuni dalam tubuh manusia. Beberapa mikroorganisme menyebabkan penyakit dan yang lain terlibat dalam kegitan manusiasehari-hari seperti misalnya pembuatan keju, yogurt, produksi penisilin serta proses perlakuan yang berkaitan dengan pembuangan limbah (Pelczar dan Chan, 1986).
Mikroba merupakan mahluk hidup yang mempunyai bentuk dan ukuran yang sangat kecil, serta sifat hidup yang berbeda dengan jasad hidup lain. Untuk meneliti dengan teliti mikroba ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang tetapi dengan menggunakan alat bantu pembesar seperti lup atau mikroskop (Suriawiria, 1995).
Mikroorganisme terdapat di mana-mana, dari dasar laut sampai ke puncak-puncak gunung berselimutan es, di mata-mata air belerang panas, dalam tanah dan debu, di udara,l dalam air dan susu, maupun pada permukaan jaringan tubuh kita sendiri. Pendeknya di segala macam tempat serta lingkungan di muka bumi ini. Sesungguhnya memang manusia dikelilingi oleh mikroba. Mikroba yang sering manusia jumpai yaitu jenis bakteri, yeast, dan jamur (Hadioetomo, 1983).
Tujuan
Tujuan praktikum perhitungan mikroorganisme ini adalah untuk mengetahui  jumlah koloni yang terdapat pada bahan yang digunakan.

















TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengenceran dan Penanaman
Salah satu cara yang mudah untuk menghitung jumlah mikroba adalah dengan melakukan pengenceran. Cara ini dengan menyiapkan beberapa tabung reaksi yang berisi 9 ml aquadest steril. Kepada masing-masing tabung kemudian ditambahkan     1 ml sampel yang mau diperiksa secara bertahap, yaitu :
1 ml sampel ke dalam tabung pertama, hingga konsentrasi larutan di dalam tabung pertama menjadi 10-1.
1 ml dari tabung pertama ke tabung kedua, hingga konsentrasi larutan di dalam tabung kedua menjadi 10-2.
Dan seterusnya sampai mencapai larutan dengan konsentrasi terendah (Suriawiria, 1995).
Sebelum menumbuhkan mikroorganisme dengan sebaik-baiknya, pertama-tama harus memahami kebutuhan dasarnya lalu mencoba memformulasikan suatu medium yang memberikan hasil terbaik. Medium di sini ialah bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di atas atau di dalamnya (Hadioetomo, 1995)
Konsistensi medium dapat dibuat bermacam-macam bergantung kepada keperluannya. Misalnya, medium cair seperti kaldu nutrien atau kaldu glukosa dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti pembiakan organisme dalam jumlah besar, penelaah fermentasi, dan berbagai macam uji. Bila diinginkan medium padat, dapat ditambahkan bahan pemadat ke dalam medium kaldu. Medium padat biasanya digunakan untuk mengamati penampilan atau morfologi koloni dan mengisolasi  biakan murni. Sedangkan medium dengan konsistensi pertengahan disebut medium setengah padat; kegunaannya antara lain ialah untuk menguji ada tidaknya motilitas dan kemampuan fermentansi. Medium setengah padat seringkali mengandung baik gelatin maupun agar-agar namun dalam konsentrasi lebih kecil daripada medium padat (Hadioetomo, 1995). 
Penanaman dilakukan sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan ke dalam cawan petri yang berisi media padat. Pertumbuhan koloni yang kemudian timbul pada tiap-tiap cawan, dihitung. Di dalam cara perhitungan ini harus diperhitungkan faktor kerapatan pertumbuhan koloni karena jika pertumbuhan terlalu rapat, biasanya sulit untuk dipertanggungjawabkan hasilnya. Juga pertumbuhan yang terlalu jarang sehingga diperlukan adanya pemilihan cawan yang ditumbuhi koloni yang paling tinggi kemungkinannya (Suriawiria, 1995).
Meskipun persyaratan nutrien mikroorganisme amat beragam, namun sebagai makhluk hidup mereka mempunyai kebutuhan dasar yang sama, yaitu meliputi air, karbon, energi, mineral, dan faktor tumbuh.
Perkembangbiakan mikroba dapat terjadi secara aseksual (yang paling umum) dan secara seksual (terjadi pada beberapa individu saja). Pada bakteri misalnya, perkembangbiakan secara aseksual terjadi secara pembelahan biner, yaitu satu sel induk membelah menjadi dua sel anak. Kemudian masing-masing sel anak akan membentuk dua sel anak lagi dan seterusnya hingga makin membanyak. Selama sel membelah maka akan terjadi keselarasan replikasi DNA sehingga tiap-tiap sel anak akan menerima paling sedikit satu salinan genom dimana kecepatan pembelahan ditentukan dengan waktu generasi dari suatu mikrobia tertentu (Suriawiria, 1995).
Bagi organisme bersel tunggal, air amat penting artinya karena antara lain merupakan komponen utama protoplasma (70-85% protoplasma terdiri dari air), serta bagi masuknya nutrien ke dalam sel dan keluarnya sekresi ataupun ekresi dari dalam sel. Di samping itu juga air juga diperlukan untuk berlangsungnya reaksi-reaksi enzimatik di dalam sel, di dalam pembuatan medium sebaiknya digunakan air suling. Air sadah pada umumnya mengandung pepton dan ekstrak daging, air dengan kualitas semacam ini dpat menyebabkan terbentuknya endapan fosfat dan magnesium fosfat.
Berdasarkan kepada pola kehidupan, khususnya kepada sumber nutrien dan enrgi serta oksigen, maka kehidupan mikroba terbagi kedalam beberapa kelompok tertentu seperti autotrofik dan heterotrofik, yaitu pola kehidupan berdasarkan kepada kebutuhan terhadap sumber C (karbon) dan energi sehingga dikenal mikroba aututrofik, yang memrlukan sumber C di dalam bentuk senyawa anorganik seperti CO2 atau karbonat dan mikroba heterotrofik yang memerlukan sumber C di dalam bentuk senyawa organik. Selain itu, pembagian golongan mikroba juga terdiri dari golongan aerobik, anaerobik dan anaerobik fakultatif (Suriawiria, 1995).
B. Perhitungan mikrobia
Pengukuran kuantitatif populasi mikrobia sering kali diperlukan di dalam berbagai macam penelaahan mikrobiologis. Pada hakikatnya terdapat 2 macam pengukuran dasar, yaitu penentuan jumlah sel dan penentuan massa sel. Pengukuran jumlah sel biasanya dilakukan bagi organisme bersel tunggal (misalnya bakteri), sedangkan penentuan massa sel dapat dilakukan tidak hanya bagi organisme bersel tunggal tetapi juga bagi organisme berfilamen (misalnya jamur).
Ada berbagai macam cara untuk mengukur jumlah sel, antara lain dengan hitungan cawan (plate count), hitungan mikroskopis langsung (direct microscopic count), atau secara elektronis dengan bantuan alat yang disebut penghitung coulter (coulter counter). Cara lain untuk menentukan jumlah sel ialah dengan menyaring sampel dengan suatu saringan membran.
Pada metode hitungan mikroskopis langsung seperti hemasitometer, jumlah sel dapat ditentukan secara langsung dengan bantuan mikroskop. Keuntungan metode ini ialah pelaksanaannya cepat dan tidak memerlukan banyak peralatan. Namun kelemahannya ialah tidak membedakan sel-sel yang hidup dan sel-sel yang mati, dengan kata lain hasil yang diperoleh ialah jumlah total yang ada di dalam populasi.
III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19 Oktober 2011 pukul 13.00 sampai dengan pukul 15.00 di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: 1) , 2) erlenmeyer, 3) hot plate, 4) mikro pipet, 5) stearer.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1) Air Comberan, 2) Air Galon, 3) aquadest, 4) Nasi, 5) Nasi Basi, 6) PCA
Cara kerja
Cara kerja praktikum pengenalan alat ini adalah :
Sediakan alat-alat yang akan digunakan.
Alat-alat yang telah disediakan tersebut akan di jelaskan asisten bagaimana fungsi dari setiap alat
Masing-masing alat tersebut digambar dan dicatat fungsinya.


B. Pembahasan
Mikroorganisme adalah mahluk hidup yang sangat kecil yang ada di alam ini. Karena sangat kecil ini, maka untuk melihat dan menghitung mikrobia cukuplah sulit jika tidak mengunakan alat bantu dan metode tertentu. Cara mudah melihat mikroorganisme adalah dengan menggunakan mikroskop, tetapi untuk menghitungnya terdapat dua metode yang dinamakan metode hitungan cawan dan metode hitungan mikroskopis langsung. Metode yang dipakai dalam praktikum ini adalah metode hitungan cawan yang sebelumnya dilakukan proses pengenceran.
Pengenceran dimaksudkan untuk mempermudah perhitungan jumlah koloni mikrobia dan untuk menghemat bahan yang digunakan. Pengenceran disesuaikan dengan konsentrasi yang diinginkan dimana pengenceran yang dilakukan ini sampai pengenceran dengan konsentrasi 10-7 , tetapi yang ditanam ke dalam cawan petri yaitun pada konsentrasi 10-5 dan 10-7.
Diketahui jumlah mikrobia pada konsentrasi 10-5 lebih banyak daripada 10-7, hal ini menandakan makin sedikit kita melakukan pengenceran makin banyak jumlah koloni dari suatu mikrobia begitupun sebaliknya. Medium agar yang digunakan untuk pertumbuhan mikrobia adalah NA, PGYA, dan PDA yang ternyata pada medium NA jumlah mikrobia ditemukan. Hal ini mungkin pada medium NA ketersediaan nutriennya lebih banyak dibandingkan medium agar lain.
Praktikum ini menggunkan cara yang kedua yaitu Spread plate yang masa inkubasi mikrobanya selama 24 jam dan 48 jam. Jenis mikroba yang tumbuh adalah bakteri, yeast, dan jamur. Pertumbuhan bakteri, yeast, dan jamur ini sangat cepat karena ketiganya mempunyai waktu generasi yang berbeda-beda. Bakteri lebih cepat waktu generasinya dibanding yeast dan jamur lebih lambat waktu generasinya dibanding yeast.
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah kita lakukan, dapat disimpulkan bahwa :
Penghitungan jumlah mikrobia dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penghitungan mikrobia secara langsung dan penghitungan mikrobia secara tidak langsung.
Untuk penghitungan mikrobia secara tidak langsung, semakin besar volume pengenceran, maka jumlah koloni bakteri yang diperoleh akan semakin sedikit.
Penghitungan jumlah mikrobia secara tidak langsung dipakai untuk menentukan jumlah mikrobia secara keseluruhan dalam suatu cawan, baik mikrobia yang hidup maupun mikrobia yang mati.
Ada berbagai macam cara mengukur jumlah sel, antara lain dengan hitungan cawan (plate count), hitungan mikroskopis langsung (direct microscopis count), atau secara elektronis dengan bantuan alat yang disebut perhitungan coulter (coulter count).
Dari hasil pengamatan diperoleh data bahwa jumlah koloni mikroorganisme yang terdapat pada air comberan paling sedikit. Sedangkan jumlah koloni mikroorganisme yang banyak terdapat pada nasi makan.





DAFTAR PUSTAKA
Buckle K.A., R.A. Edward, G.H. Fleet, dan M. Wootton. 1987. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia. Jakarta.
Hadioetomo, RS. 1983. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT.Gramedia. Jakarta.
Pelczar MJ dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Universitas Indonesia. Jakarta.
Suriawiria, U. 1995. Pengantar Mikrobiologi Umum. Angkasa. Bandung.

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUMPENYIAPAN MEDIA

A. Latar Belakang
Untuk menelaah mikroorganisme di laboratorium, kita harus dapat menumbuhkan mereka. Mikroorganisme dapat berkembang biak dengan alami atau dengan bantuan manusia. Mikroorganisme yang dikembangkan oleh manusia diantaranya melalui substrat yang disebut media. Untuk melakukan hal ini, haruslah dimengerti jenis-jenis nutrien yang diisyaratkan oleh bakteri dan juga macam lingkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhannya (Label, 2008).
Mikroorganisme yang kita isolasi harus kita ketahui jenis medium yang disukai sehingga dapat tumbuh dengan baik pada media. Dalam hal ini medium ini akan digunakan oleh mikroorganisme sebagai sumber energi untuk melakukan pertumbuhan dan perkembangbiakan maka hendaknya harus sesuai dengan komposisi bahan medium.
Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media. Dasar makanan yang baik bagi pemiaraan bakteri adalah medium yang mengandung zat-zat organik seperti buah, daging, sayur-sayuran dan sisa-sisa makanan yang dibuat oleh manusia ataupun ramu-ramuan. Medium yang paling banyak digunakan dalam pekerjaan rutin laboratorium adalah kaldu cair dan kaldu agar.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka dilakukanlah praktikum ini untuk mempelajari macam- macam medium, cara- cara pembuatan dari beberapa medium dan sekaligus mengetahui bahan- bahan yang digunakan serta komposisi juga fungsi dari masing- masing bahan tersebut dalam membantu pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Sehingga nantinya diharapkan dapat menumbuhkan, mengisolasi dan menguji sifat fisiologi atau perhitungan mikroorganisme tertentu.
B. Tujuan
Tujuan praktikum penyiapan media adalah untuk mengetahui cara-cara penyiapan media untuk pertumbuhan mikroorganisme.





















II. TINJAUAN PUSTAKA
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya (Indra, 2008).
Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya (Volk, dan Wheeler,1993).
Akan tetapi yang terpenting medium harus mengandung nutrien yang merupakan substansi dengan berat molekul rendah dan mudah larut dalam air. Nutrien ini adalah degradasi dari nutrien dengan molekul yang kompleks. Nutrien dalam medium harus memenuhi kebutuhan dasar makhluk hidup, yang meliputi air, karbon, energi, mineral dan faktor tumbuh (Label, 2008).
Untuk menelaah bakteri di dalam laboratorium , pertama- tama kita harus dapat menumbuhkan bakteri tersebut di dalam suatu biakan murni. Untuk melakukannya haruslah dimengerti jenis- jenis nutrient yang disyartakan oleh bakteri dan juga macam lingkungan fisik yang mana dapat menyebabkan kondisi yang optimum bagi pertumbuhannya tersbut (Pelczar, 1986).
Adapun macam-macam media Pertumbuhan antara lain (Indra, 2008) :
Medium berdasarkan sifat fisik
Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat..
Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Misalnya bakteri yang tumbuh pada media NfB (Nitrogen free Bromthymol Blue) semisolid akan membentuk cincin hijau kebiruan dibawah permukaan media, jika media ini cair maka cincin ini dapat dengan mudah hancur. Semisolid juga bertujuan untuk mencegah/menekan difusi oksigen, misalnya pada media Nitrate Broth, kondisi anaerob atau sedikit oksigen meningkatkan metabolisme nitrat tetapi bakteri ini juga diharuskan tumbuh merata diseluruh media.
Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar, contohnya adalah NB (Nutrient Broth), LB (Lactose Broth).
Medium berdasarkan komposisi
Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan
akarannya secara pasti, misalnya Glucose Agar, Mac Conkey Agar.
Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara
pasti, misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung agar, dekstrosa
dan ekstrak kentang. Untuk bahan ekstrak kentang, kita tidak dapat mengetahui secara detail tentang komposisi senyawa penyusunnya.
Medium non sintesis yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang tidak dapat
diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya, misalnya Tomato Juice Agar, Brain Heart Infusion Agar, Pancreatic Extract.
Medium berdasarkan tujuan
Media untuk isolasi
Media ini mengandung semua senyawa esensial untuk pertumbuhan mikroba, misalnya Nutrient Broth, Blood Agar.
Media selektif/penghambat
Media yang selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat tertentu sehingga media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Contohnya adalah Luria Bertani medium yang ditambah Amphisilin untuk merangsang E.coli resisten antibotik dan menghambat kontaminan yang peka, Ampiciline. Salt broth yang ditambah NaCl 4% untuk membunuh Streptococcus agalactiae yang toleran terhadap garam. 
Media diperkaya (enrichment)
Media diperkaya adalah media yang mengandung komponen dasar untuk pertumbuhan mikroba dan ditambah komponen kompleks seperti darah, serum, kuning telur. Media diperkaya juga bersifat selektif untuk mikroba tertentu. Bakteri yang ditumbuhkan dalam media ini tidak hanya membutuhkan nutrisi sederhana untuk berkembang biak, tetapi membutuhkan komponen kompleks, misalnya Blood Tellurite Agar, Bile Agar, Serum Agar, dll.
Media untuk peremajaan kultur
Media umum atau spesifik yang digunakan untuk peremajaan kultur.
Media untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik.
Media ini digunakan unutk mendiagnosis atau menganalisis metabolisme suatu mikroba. Contohnya adalah Koser’s Citrate medium, yang digunakan untuk menguji kemampuan menggunakan asam sitrat sebagai sumber karbon.
Media untuk karakterisasi bakteri
Media yang digunakan untuk mengetahui kemempuan spesifik suatu mikroba. Kadang-kadang indikator ditambahkan untuk menunjukkan adanya perubahan kimia. Contohnya adalah Nitrate Broth, Lactose Broth, Arginine Agar.
Media diferensial
Media ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroba dari campurannya berdasar karakter spesifik yang ditunjukkan pada media diferensial, misalnya TSIA (Triple Sugar Iron Agar) yang mampu memilih Enterobacteria berdasarkan bentuk, warna, ukuran koloni dan perubahan warna media di sekeliling koloni. Meskipun telah dijabarkan berbagai macam jenis dari medium, perlu diiingat bahwa tidak ada satupun perangkat kondisi yang memuaskan bagi kultivasi untuk semua bakteri di laboratorium. Bakteri amat beragam, baik dari persyaratan nutrisi maupun fisiknya.
Beberapa berapa bakteri memiliki persyaratan nutrient yang sederhana, sedang yang lain memiliki persyaratan yang rumit. Karena alsan ini kondisi harus disesuaikan sedemikian rupa sehingga bisa menguntungkan bagi kelompok bakteri yang sedang ditelaah (Pelczar, 1986).
Autoklaf digunakan sebagai alat sterilisasi uap dengan tekanan tinggi. Penggunaan autoklaf untuk sterilisasi, tutupnya jangan diletakkan sembarangan dan dibuka-buka karena isi botol atau tempatmedium akan meluap dan hanya boleh dibuka ketika manometer menunjukkan angka 0 serta dilakukan pendinginan sedikit demi sedikit. Medium yang mengandung vitamin, gelatin atau gula, maka setelah sterilisasi medium harus segera didinginkan. Cara ini untuk menghindari zat tersebut terurai. Medium dapat langsung disimpan di lemasi es jika medium sudah dapat dipastikan steril (Dwidjoseputro, 1994).















III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu Dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19 Oktober 2011 pukul 13.00 sampai dengan pukul 15.00 di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
B. Alat Dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: 1) autoclave, 2) erlenmeyer, 3) hot plate, 4)  stearer.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1) aquadest , 2) PCA
C. Cara Kerja
Cara kerja praktikum penyiapan media ini adalah :
Disiapkan alat-alat yang dibutuhkan.
Larutan PCA dibuat, yang komposisinya terdiri dari 80 ml aquadest dan 1,64 gram PCA.
Larutan PCA dipanaskan pada hot plate sampai mendidih sambil diaduk terus-menerus menggunakan stirer.
Media disterilisasi dalam autoclave pada suhu 121 oC selama jam. 




IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan maka hasil yang didapatkan adalah :
Diagram alir pembuatan PCA




















B. Pembahasan
Media adalah suatu substrat dimana mikroorganisme dapat tumbuh dan sesuai dengan lingkungan hidupnya. Media biakan merupakan suatu zat yang digunakan untuk menumbuhkan jasad renik di laboratorium. Fungsi dari suatu media biakan adalah memberikan tempat dan kondisi yang mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan dari mikroorganisme yang ditumbuhkan.
Sebelum menumbuhkan mikroorganisme dengan baik, langkah pertama  harus dapat dipahami kebutuhan dasar mikroorganisme lalu mencoba memformulasikan suatu medium yang memberikan hasil terbaik. Media biakan berfungsi untuk memberikan tempat dan kondisi yang mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan dari mikroorganisme yang ditumbuhkan.
Media pertumbuhan bakteri yang akan kita buat dalam praktikum mikrobiologi umum kali ini adalah Plate Count Agar (PCA). PCA digunakan sebagai medium untuk mikroba aerobik dengan inokulasi di atas permukaan. Media PCA dibuat dengan cara melarutkan 1,64 gram PCA dalam 80 ml akuades dan dipanaskan sampai mendidih. Pada saat memanaskan PCA menggunakan hotplate gunakan magnetic stearer, hal ini bertujuan agar bahan tercampur sampai homogen. Bahan yang sudah tercampur tersebut disterilkan didalam autoclave selama 1 jam dengan suhu 121 °C.  Autoclave merupakan alat yang digunakan sebagai untuk sterilisasi dengan memanfaatkan uap dengan tekanan tinggi.
PCA merupakan media penumbuhan mikroorganisme yang sangat efektif, hal tersebut dikarenakan sebagian besar mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang di dalam media tersebut. Didalam PCA  mengandung komposisi casein enzymic hydrolisate yang menyediakan asam amino dan substansi nitrogen komplek lainnya serta ekstrak yeast yang akan mensuplai vitamin B kompleks.
Seluruh peralatan harus disterilisasi sebelum digunakan untuk mengisolasi mikrobia untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi atau kehadiran bakteri lain yang tidak dikehendaki. Faktor yang dapat menyebabkan terdapatnya mikroorganisme pada media adalah udara, temperatur dan kelembaban yang ada di lingkungan sekitar praktikum.
V.    KESIMPULAN
Pada praktikum perhitungan mikroorganisme ini dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu :
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya.
Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula.
Untuk menelaah bakteri di dalam laboratorium , pertama- tama kita harus dapat menumbuhkan bakteri tersebut di dalam suatu biakan murni
Seluruh peralatan harus disterilisasi sebelum digunakan untuk membuat media.
Magnetic stearer digunakan untuk mengaduk supaya homogen.
PCA merupakan media penumbuhan mikroorganisme yang sangat efektif.
Autoclave digunakan sebagai alat sterilisasi uap dengan tekanan tinggi.









DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.
Indra., 2008.(online).(http//ekmon-saurus/bab-2-Media- pertumbuhan/.htm . diakses
pada tanggal 24 Oktober 2011).
Label, Caray.,2008. (online).(http//Caray label makalah –dan – skripsi pembuatan-
media- agar dan-sterilisasi/htm .diakses pada tanggal 24 Oktober 2011)
Pelczar, Michael, 1986, Dasar- Dasar Mikrobiologi, Universitas Indonesia, Jakarta.
Volk, dan Wheeler., 1993, Dasar- Dasar Mikrobiologi, Erlangga, Jakarta

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUMPENYIAPAN MEDIA

A. Latar Belakang
Untuk menelaah mikroorganisme di laboratorium, kita harus dapat menumbuhkan mereka. Mikroorganisme dapat berkembang biak dengan alami atau dengan bantuan manusia. Mikroorganisme yang dikembangkan oleh manusia diantaranya melalui substrat yang disebut media. Untuk melakukan hal ini, haruslah dimengerti jenis-jenis nutrien yang diisyaratkan oleh bakteri dan juga macam lingkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhannya (Label, 2008).
Mikroorganisme yang kita isolasi harus kita ketahui jenis medium yang disukai sehingga dapat tumbuh dengan baik pada media. Dalam hal ini medium ini akan digunakan oleh mikroorganisme sebagai sumber energi untuk melakukan pertumbuhan dan perkembangbiakan maka hendaknya harus sesuai dengan komposisi bahan medium.
Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media. Dasar makanan yang baik bagi pemiaraan bakteri adalah medium yang mengandung zat-zat organik seperti buah, daging, sayur-sayuran dan sisa-sisa makanan yang dibuat oleh manusia ataupun ramu-ramuan. Medium yang paling banyak digunakan dalam pekerjaan rutin laboratorium adalah kaldu cair dan kaldu agar.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka dilakukanlah praktikum ini untuk mempelajari macam- macam medium, cara- cara pembuatan dari beberapa medium dan sekaligus mengetahui bahan- bahan yang digunakan serta komposisi juga fungsi dari masing- masing bahan tersebut dalam membantu pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Sehingga nantinya diharapkan dapat menumbuhkan, mengisolasi dan menguji sifat fisiologi atau perhitungan mikroorganisme tertentu.
B. Tujuan
Tujuan praktikum penyiapan media adalah untuk mengetahui cara-cara penyiapan media untuk pertumbuhan mikroorganisme.





















II. TINJAUAN PUSTAKA
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya (Indra, 2008).
Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya (Volk, dan Wheeler,1993).
Akan tetapi yang terpenting medium harus mengandung nutrien yang merupakan substansi dengan berat molekul rendah dan mudah larut dalam air. Nutrien ini adalah degradasi dari nutrien dengan molekul yang kompleks. Nutrien dalam medium harus memenuhi kebutuhan dasar makhluk hidup, yang meliputi air, karbon, energi, mineral dan faktor tumbuh (Label, 2008).
Untuk menelaah bakteri di dalam laboratorium , pertama- tama kita harus dapat menumbuhkan bakteri tersebut di dalam suatu biakan murni. Untuk melakukannya haruslah dimengerti jenis- jenis nutrient yang disyartakan oleh bakteri dan juga macam lingkungan fisik yang mana dapat menyebabkan kondisi yang optimum bagi pertumbuhannya tersbut (Pelczar, 1986).
Adapun macam-macam media Pertumbuhan antara lain (Indra, 2008) :
Medium berdasarkan sifat fisik
Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat..
Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Misalnya bakteri yang tumbuh pada media NfB (Nitrogen free Bromthymol Blue) semisolid akan membentuk cincin hijau kebiruan dibawah permukaan media, jika media ini cair maka cincin ini dapat dengan mudah hancur. Semisolid juga bertujuan untuk mencegah/menekan difusi oksigen, misalnya pada media Nitrate Broth, kondisi anaerob atau sedikit oksigen meningkatkan metabolisme nitrat tetapi bakteri ini juga diharuskan tumbuh merata diseluruh media.
Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar, contohnya adalah NB (Nutrient Broth), LB (Lactose Broth).
Medium berdasarkan komposisi
Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan
akarannya secara pasti, misalnya Glucose Agar, Mac Conkey Agar.
Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara
pasti, misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung agar, dekstrosa
dan ekstrak kentang. Untuk bahan ekstrak kentang, kita tidak dapat mengetahui secara detail tentang komposisi senyawa penyusunnya.
Medium non sintesis yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang tidak dapat
diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya, misalnya Tomato Juice Agar, Brain Heart Infusion Agar, Pancreatic Extract.
Medium berdasarkan tujuan
Media untuk isolasi
Media ini mengandung semua senyawa esensial untuk pertumbuhan mikroba, misalnya Nutrient Broth, Blood Agar.
Media selektif/penghambat
Media yang selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat tertentu sehingga media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Contohnya adalah Luria Bertani medium yang ditambah Amphisilin untuk merangsang E.coli resisten antibotik dan menghambat kontaminan yang peka, Ampiciline. Salt broth yang ditambah NaCl 4% untuk membunuh Streptococcus agalactiae yang toleran terhadap garam. 
Media diperkaya (enrichment)
Media diperkaya adalah media yang mengandung komponen dasar untuk pertumbuhan mikroba dan ditambah komponen kompleks seperti darah, serum, kuning telur. Media diperkaya juga bersifat selektif untuk mikroba tertentu. Bakteri yang ditumbuhkan dalam media ini tidak hanya membutuhkan nutrisi sederhana untuk berkembang biak, tetapi membutuhkan komponen kompleks, misalnya Blood Tellurite Agar, Bile Agar, Serum Agar, dll.
Media untuk peremajaan kultur
Media umum atau spesifik yang digunakan untuk peremajaan kultur.
Media untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik.
Media ini digunakan unutk mendiagnosis atau menganalisis metabolisme suatu mikroba. Contohnya adalah Koser’s Citrate medium, yang digunakan untuk menguji kemampuan menggunakan asam sitrat sebagai sumber karbon.
Media untuk karakterisasi bakteri
Media yang digunakan untuk mengetahui kemempuan spesifik suatu mikroba. Kadang-kadang indikator ditambahkan untuk menunjukkan adanya perubahan kimia. Contohnya adalah Nitrate Broth, Lactose Broth, Arginine Agar.
Media diferensial
Media ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroba dari campurannya berdasar karakter spesifik yang ditunjukkan pada media diferensial, misalnya TSIA (Triple Sugar Iron Agar) yang mampu memilih Enterobacteria berdasarkan bentuk, warna, ukuran koloni dan perubahan warna media di sekeliling koloni. Meskipun telah dijabarkan berbagai macam jenis dari medium, perlu diiingat bahwa tidak ada satupun perangkat kondisi yang memuaskan bagi kultivasi untuk semua bakteri di laboratorium. Bakteri amat beragam, baik dari persyaratan nutrisi maupun fisiknya.
Beberapa berapa bakteri memiliki persyaratan nutrient yang sederhana, sedang yang lain memiliki persyaratan yang rumit. Karena alsan ini kondisi harus disesuaikan sedemikian rupa sehingga bisa menguntungkan bagi kelompok bakteri yang sedang ditelaah (Pelczar, 1986).
Autoklaf digunakan sebagai alat sterilisasi uap dengan tekanan tinggi. Penggunaan autoklaf untuk sterilisasi, tutupnya jangan diletakkan sembarangan dan dibuka-buka karena isi botol atau tempatmedium akan meluap dan hanya boleh dibuka ketika manometer menunjukkan angka 0 serta dilakukan pendinginan sedikit demi sedikit. Medium yang mengandung vitamin, gelatin atau gula, maka setelah sterilisasi medium harus segera didinginkan. Cara ini untuk menghindari zat tersebut terurai. Medium dapat langsung disimpan di lemasi es jika medium sudah dapat dipastikan steril (Dwidjoseputro, 1994).















III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu Dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19 Oktober 2011 pukul 13.00 sampai dengan pukul 15.00 di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
B. Alat Dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: 1) autoclave, 2) erlenmeyer, 3) hot plate, 4)  stearer.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1) aquadest , 2) PCA
C. Cara Kerja
Cara kerja praktikum penyiapan media ini adalah :
Disiapkan alat-alat yang dibutuhkan.
Larutan PCA dibuat, yang komposisinya terdiri dari 80 ml aquadest dan 1,64 gram PCA.
Larutan PCA dipanaskan pada hot plate sampai mendidih sambil diaduk terus-menerus menggunakan stirer.
Media disterilisasi dalam autoclave pada suhu 121 oC selama jam. 




IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan maka hasil yang didapatkan adalah :
Diagram alir pembuatan PCA




















B. Pembahasan
Media adalah suatu substrat dimana mikroorganisme dapat tumbuh dan sesuai dengan lingkungan hidupnya. Media biakan merupakan suatu zat yang digunakan untuk menumbuhkan jasad renik di laboratorium. Fungsi dari suatu media biakan adalah memberikan tempat dan kondisi yang mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan dari mikroorganisme yang ditumbuhkan.
Sebelum menumbuhkan mikroorganisme dengan baik, langkah pertama  harus dapat dipahami kebutuhan dasar mikroorganisme lalu mencoba memformulasikan suatu medium yang memberikan hasil terbaik. Media biakan berfungsi untuk memberikan tempat dan kondisi yang mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan dari mikroorganisme yang ditumbuhkan.
Media pertumbuhan bakteri yang akan kita buat dalam praktikum mikrobiologi umum kali ini adalah Plate Count Agar (PCA). PCA digunakan sebagai medium untuk mikroba aerobik dengan inokulasi di atas permukaan. Media PCA dibuat dengan cara melarutkan 1,64 gram PCA dalam 80 ml akuades dan dipanaskan sampai mendidih. Pada saat memanaskan PCA menggunakan hotplate gunakan magnetic stearer, hal ini bertujuan agar bahan tercampur sampai homogen. Bahan yang sudah tercampur tersebut disterilkan didalam autoclave selama 1 jam dengan suhu 121 °C.  Autoclave merupakan alat yang digunakan sebagai untuk sterilisasi dengan memanfaatkan uap dengan tekanan tinggi.
PCA merupakan media penumbuhan mikroorganisme yang sangat efektif, hal tersebut dikarenakan sebagian besar mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang di dalam media tersebut. Didalam PCA  mengandung komposisi casein enzymic hydrolisate yang menyediakan asam amino dan substansi nitrogen komplek lainnya serta ekstrak yeast yang akan mensuplai vitamin B kompleks.
Seluruh peralatan harus disterilisasi sebelum digunakan untuk mengisolasi mikrobia untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi atau kehadiran bakteri lain yang tidak dikehendaki. Faktor yang dapat menyebabkan terdapatnya mikroorganisme pada media adalah udara, temperatur dan kelembaban yang ada di lingkungan sekitar praktikum.
V.    KESIMPULAN
Pada praktikum perhitungan mikroorganisme ini dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu :
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya.
Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula.
Untuk menelaah bakteri di dalam laboratorium , pertama- tama kita harus dapat menumbuhkan bakteri tersebut di dalam suatu biakan murni
Seluruh peralatan harus disterilisasi sebelum digunakan untuk membuat media.
Magnetic stearer digunakan untuk mengaduk supaya homogen.
PCA merupakan media penumbuhan mikroorganisme yang sangat efektif.
Autoclave digunakan sebagai alat sterilisasi uap dengan tekanan tinggi.









DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.
Indra., 2008.(online).(http//ekmon-saurus/bab-2-Media- pertumbuhan/.htm . diakses
pada tanggal 24 Oktober 2011).
Label, Caray.,2008. (online).(http//Caray label makalah –dan – skripsi pembuatan-
media- agar dan-sterilisasi/htm .diakses pada tanggal 24 Oktober 2011)
Pelczar, Michael, 1986, Dasar- Dasar Mikrobiologi, Universitas Indonesia, Jakarta.
Volk, dan Wheeler., 1993, Dasar- Dasar Mikrobiologi, Erlangga, Jakarta

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUMPERHITUNGAN MIKROORGANISME

A. Latar Belakang
Mikroorganisme tersebar luas di alam lingkungan dan sebagai akibatnya produk pangan jarang sekali steril dan umumnya tercemar oleh berbagai jenis mikroorganisme. Bahan pangan selain merupakan sumber gizi bagi manusia juga sebagai sumber makanan bagi perkembangan mikroorganisme. Pertumbuhan atau perkembangan mikroorganisme dalam makanan sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia dan akibat dari hubungan (Buckle et al., 1987)
Sekarang ini mikroba tidak hanya bersifat merugikan, tetapi juga ada suatu mikroorganisme tertentu yang berguna dalam proses pengolahan seperti halnya dalam proses fermentasi contohnya saja Lactobacillus sake yang merupakan bakteri asam laktat dalam pembuatan sakei, juga ada Saccharomyces cereviceae dalam pembuatan tapai dan tempe memerlukan bantuan jamur Rhizopus oligosporus untuk proses pembentukkannya.
Dalam bidang mikrobiologi kita mempelajari banyak segi mengenai jasad-jasad renik yang biasa dinamakan miroba atau protista, dimana adanya  ciri-ciri dan kekerabatan antara sesamanya seperti juga dengan kelompok organisme lainnya, pengendaliannya, dan peranannya dalam kesehatan serta kesejahteraan kita. Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita, beberapa diantaranya bermanfaat dan yang lainnya merugikan. Banyak di antaranya menjadi penghuni dalam tubuh manusia. Beberapa mikroorganisme menyebabkan penyakit dan yang lain terlibat dalam kegitan manusiasehari-hari seperti misalnya pembuatan keju, yogurt, produksi penisilin serta proses perlakuan yang berkaitan dengan pembuangan limbah (Pelczar dan Chan, 1986).
Mikroba merupakan mahluk hidup yang mempunyai bentuk dan ukuran yang sangat kecil, serta sifat hidup yang berbeda dengan jasad hidup lain. Untuk meneliti dengan teliti mikroba ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang tetapi dengan menggunakan alat bantu pembesar seperti lup atau mikroskop (Suriawiria, 1995).
Mikroorganisme terdapat di mana-mana, dari dasar laut sampai ke puncak-puncak gunung berselimutan es, di mata-mata air belerang panas, dalam tanah dan debu, di udara,l dalam air dan susu, maupun pada permukaan jaringan tubuh kita sendiri. Pendeknya di segala macam tempat serta lingkungan di muka bumi ini. Sesungguhnya memang manusia dikelilingi oleh mikroba. Mikroba yang sering manusia jumpai yaitu jenis bakteri, yeast, dan jamur (Hadioetomo, 1983).
Tujuan
Tujuan praktikum perhitungan mikroorganisme ini adalah untuk mengetahui  jumlah koloni yang terdapat pada bahan yang digunakan.

















TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengenceran dan Penanaman
Salah satu cara yang mudah untuk menghitung jumlah mikroba adalah dengan melakukan pengenceran. Cara ini dengan menyiapkan beberapa tabung reaksi yang berisi 9 ml aquadest steril. Kepada masing-masing tabung kemudian ditambahkan     1 ml sampel yang mau diperiksa secara bertahap, yaitu :
1 ml sampel ke dalam tabung pertama, hingga konsentrasi larutan di dalam tabung pertama menjadi 10-1.
1 ml dari tabung pertama ke tabung kedua, hingga konsentrasi larutan di dalam tabung kedua menjadi 10-2.
Dan seterusnya sampai mencapai larutan dengan konsentrasi terendah (Suriawiria, 1995).
Sebelum menumbuhkan mikroorganisme dengan sebaik-baiknya, pertama-tama harus memahami kebutuhan dasarnya lalu mencoba memformulasikan suatu medium yang memberikan hasil terbaik. Medium di sini ialah bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di atas atau di dalamnya (Hadioetomo, 1995)
Konsistensi medium dapat dibuat bermacam-macam bergantung kepada keperluannya. Misalnya, medium cair seperti kaldu nutrien atau kaldu glukosa dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti pembiakan organisme dalam jumlah besar, penelaah fermentasi, dan berbagai macam uji. Bila diinginkan medium padat, dapat ditambahkan bahan pemadat ke dalam medium kaldu. Medium padat biasanya digunakan untuk mengamati penampilan atau morfologi koloni dan mengisolasi  biakan murni. Sedangkan medium dengan konsistensi pertengahan disebut medium setengah padat; kegunaannya antara lain ialah untuk menguji ada tidaknya motilitas dan kemampuan fermentansi. Medium setengah padat seringkali mengandung baik gelatin maupun agar-agar namun dalam konsentrasi lebih kecil daripada medium padat (Hadioetomo, 1995). 
Penanaman dilakukan sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan ke dalam cawan petri yang berisi media padat. Pertumbuhan koloni yang kemudian timbul pada tiap-tiap cawan, dihitung. Di dalam cara perhitungan ini harus diperhitungkan faktor kerapatan pertumbuhan koloni karena jika pertumbuhan terlalu rapat, biasanya sulit untuk dipertanggungjawabkan hasilnya. Juga pertumbuhan yang terlalu jarang sehingga diperlukan adanya pemilihan cawan yang ditumbuhi koloni yang paling tinggi kemungkinannya (Suriawiria, 1995).
Meskipun persyaratan nutrien mikroorganisme amat beragam, namun sebagai makhluk hidup mereka mempunyai kebutuhan dasar yang sama, yaitu meliputi air, karbon, energi, mineral, dan faktor tumbuh.
Perkembangbiakan mikroba dapat terjadi secara aseksual (yang paling umum) dan secara seksual (terjadi pada beberapa individu saja). Pada bakteri misalnya, perkembangbiakan secara aseksual terjadi secara pembelahan biner, yaitu satu sel induk membelah menjadi dua sel anak. Kemudian masing-masing sel anak akan membentuk dua sel anak lagi dan seterusnya hingga makin membanyak. Selama sel membelah maka akan terjadi keselarasan replikasi DNA sehingga tiap-tiap sel anak akan menerima paling sedikit satu salinan genom dimana kecepatan pembelahan ditentukan dengan waktu generasi dari suatu mikrobia tertentu (Suriawiria, 1995).
Bagi organisme bersel tunggal, air amat penting artinya karena antara lain merupakan komponen utama protoplasma (70-85% protoplasma terdiri dari air), serta bagi masuknya nutrien ke dalam sel dan keluarnya sekresi ataupun ekresi dari dalam sel. Di samping itu juga air juga diperlukan untuk berlangsungnya reaksi-reaksi enzimatik di dalam sel, di dalam pembuatan medium sebaiknya digunakan air suling. Air sadah pada umumnya mengandung pepton dan ekstrak daging, air dengan kualitas semacam ini dpat menyebabkan terbentuknya endapan fosfat dan magnesium fosfat.
Berdasarkan kepada pola kehidupan, khususnya kepada sumber nutrien dan enrgi serta oksigen, maka kehidupan mikroba terbagi kedalam beberapa kelompok tertentu seperti autotrofik dan heterotrofik, yaitu pola kehidupan berdasarkan kepada kebutuhan terhadap sumber C (karbon) dan energi sehingga dikenal mikroba aututrofik, yang memrlukan sumber C di dalam bentuk senyawa anorganik seperti CO2 atau karbonat dan mikroba heterotrofik yang memerlukan sumber C di dalam bentuk senyawa organik. Selain itu, pembagian golongan mikroba juga terdiri dari golongan aerobik, anaerobik dan anaerobik fakultatif (Suriawiria, 1995).
B. Perhitungan mikrobia
Pengukuran kuantitatif populasi mikrobia sering kali diperlukan di dalam berbagai macam penelaahan mikrobiologis. Pada hakikatnya terdapat 2 macam pengukuran dasar, yaitu penentuan jumlah sel dan penentuan massa sel. Pengukuran jumlah sel biasanya dilakukan bagi organisme bersel tunggal (misalnya bakteri), sedangkan penentuan massa sel dapat dilakukan tidak hanya bagi organisme bersel tunggal tetapi juga bagi organisme berfilamen (misalnya jamur).
Ada berbagai macam cara untuk mengukur jumlah sel, antara lain dengan hitungan cawan (plate count), hitungan mikroskopis langsung (direct microscopic count), atau secara elektronis dengan bantuan alat yang disebut penghitung coulter (coulter counter). Cara lain untuk menentukan jumlah sel ialah dengan menyaring sampel dengan suatu saringan membran.
Pada metode hitungan mikroskopis langsung seperti hemasitometer, jumlah sel dapat ditentukan secara langsung dengan bantuan mikroskop. Keuntungan metode ini ialah pelaksanaannya cepat dan tidak memerlukan banyak peralatan. Namun kelemahannya ialah tidak membedakan sel-sel yang hidup dan sel-sel yang mati, dengan kata lain hasil yang diperoleh ialah jumlah total yang ada di dalam populasi.
III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19 Oktober 2011 pukul 13.00 sampai dengan pukul 15.00 di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: 1) , 2) erlenmeyer, 3) hot plate, 4) mikro pipet, 5) stearer.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1) Air Comberan, 2) Air Galon, 3) aquadest, 4) Nasi, 5) Nasi Basi, 6) PCA
Cara kerja
Cara kerja praktikum pengenalan alat ini adalah :
Sediakan alat-alat yang akan digunakan.
Alat-alat yang telah disediakan tersebut akan di jelaskan asisten bagaimana fungsi dari setiap alat
Masing-masing alat tersebut digambar dan dicatat fungsinya.


B. Pembahasan
Mikroorganisme adalah mahluk hidup yang sangat kecil yang ada di alam ini. Karena sangat kecil ini, maka untuk melihat dan menghitung mikrobia cukuplah sulit jika tidak mengunakan alat bantu dan metode tertentu. Cara mudah melihat mikroorganisme adalah dengan menggunakan mikroskop, tetapi untuk menghitungnya terdapat dua metode yang dinamakan metode hitungan cawan dan metode hitungan mikroskopis langsung. Metode yang dipakai dalam praktikum ini adalah metode hitungan cawan yang sebelumnya dilakukan proses pengenceran.
Pengenceran dimaksudkan untuk mempermudah perhitungan jumlah koloni mikrobia dan untuk menghemat bahan yang digunakan. Pengenceran disesuaikan dengan konsentrasi yang diinginkan dimana pengenceran yang dilakukan ini sampai pengenceran dengan konsentrasi 10-7 , tetapi yang ditanam ke dalam cawan petri yaitun pada konsentrasi 10-5 dan 10-7.
Diketahui jumlah mikrobia pada konsentrasi 10-5 lebih banyak daripada 10-7, hal ini menandakan makin sedikit kita melakukan pengenceran makin banyak jumlah koloni dari suatu mikrobia begitupun sebaliknya. Medium agar yang digunakan untuk pertumbuhan mikrobia adalah NA, PGYA, dan PDA yang ternyata pada medium NA jumlah mikrobia ditemukan. Hal ini mungkin pada medium NA ketersediaan nutriennya lebih banyak dibandingkan medium agar lain.
Praktikum ini menggunkan cara yang kedua yaitu Spread plate yang masa inkubasi mikrobanya selama 24 jam dan 48 jam. Jenis mikroba yang tumbuh adalah bakteri, yeast, dan jamur. Pertumbuhan bakteri, yeast, dan jamur ini sangat cepat karena ketiganya mempunyai waktu generasi yang berbeda-beda. Bakteri lebih cepat waktu generasinya dibanding yeast dan jamur lebih lambat waktu generasinya dibanding yeast.
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah kita lakukan, dapat disimpulkan bahwa :
Penghitungan jumlah mikrobia dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penghitungan mikrobia secara langsung dan penghitungan mikrobia secara tidak langsung.
Untuk penghitungan mikrobia secara tidak langsung, semakin besar volume pengenceran, maka jumlah koloni bakteri yang diperoleh akan semakin sedikit.
Penghitungan jumlah mikrobia secara tidak langsung dipakai untuk menentukan jumlah mikrobia secara keseluruhan dalam suatu cawan, baik mikrobia yang hidup maupun mikrobia yang mati.
Ada berbagai macam cara mengukur jumlah sel, antara lain dengan hitungan cawan (plate count), hitungan mikroskopis langsung (direct microscopis count), atau secara elektronis dengan bantuan alat yang disebut perhitungan coulter (coulter count).
Dari hasil pengamatan diperoleh data bahwa jumlah koloni mikroorganisme yang terdapat pada air comberan paling sedikit. Sedangkan jumlah koloni mikroorganisme yang banyak terdapat pada nasi makan.





DAFTAR PUSTAKA
Buckle K.A., R.A. Edward, G.H. Fleet, dan M. Wootton. 1987. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia. Jakarta.
Hadioetomo, RS. 1983. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT.Gramedia. Jakarta.
Pelczar MJ dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Universitas Indonesia. Jakarta.
Suriawiria, U. 1995. Pengantar Mikrobiologi Umum. Angkasa. Bandung.

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUMUJI KATALASE, PEWARNAAN GRAM DAN MIKROSKOP

A. Latar Belakang
Uji katalase digunakan untuk mengetahui aktivitas katalase pada bakteri yang diuji. Kebanyakan bakteri memproduksi enzim katalase yang dapat memecah H2O2 menjadi H2O dan O2. Enzim katalase diduga penting untuk pertumbuhan aerobik karena H2O2 yang dibentuk dengan pertolongan berbagai enzim pernafasan bersifat racun terhadap sel mikroba. Beberapa bakteri yang termasuk katalase negatif adalah Streptococcus, Leuconostoc, Lactobacillus, dan Clostridium.
Keberadaan H2O2 pertama kali dideteksi pada kultur Pneumococcus, sebuah organismeyang tidak memproduksi katalase dan sedikit sensitif terhadap peroksida. Organisme yang tidak memproduksi katalase dilindungi oleh penanaman dengan jaringan hewan atau tumbuhan atau organisme lain yang mempunyai kemampuan memproduksi enzim. Katalase diproduksi oleh beberapa bakteri. Beberapa bakteri diantaranya memproduksi katalase lebih banyak daripada yang lain. Ini ditunjukkan dengan jumlah yang banyak pada bakteri aerob. Sedangkan enzim tidak diproduksi oleh bakteri anaerob obligat karena mereka tidak memerlukan enzim tidak diproduksi oleh bakteri anaerob obligat karena mereka tidak memerlukan enzim tersebut.
Superoksida dismutase adalah enzim yang bertanggung jawab untuk penguraian khususnya superoksida pada organisme aerob yang bersifat katalase negatif. Produksi katalase bisa diidentifikasi dengan menanmbahkan reagen H2O2 pada suspensi bakteri. Jika dihasilkan gelembung gas, berarti bakteri tersebut mampu memproduksi enzim katalase. Jika tidak dihasilkan gelembung gas berarti uji katalase dinyatakan negative (Pradhika, 2008).
Semua zat-zat pewarnaan bakteri adalah produk sintetik, misalnya za-zat warna analin. Meskipun zat-zat warna sintetik bervariasi dalam sifat-sifat kimia dan sifat-sifat pewarnaannya, tetapi untuk tujuan praktek maka zat-zat warna dibagi ke dalam dua grup, yaitu 1) acid dyes (zat-zat warna sifat asam), 2) basic dyes (zat-zat warna sifat basa/alkalis) (Suryawira. 2000).
Pewarnaan gram termasuk pewarnaan diferensial yang sedikitnyamenggunakan tiga reagen kimia yang diaplikasikan pada preparat mikroskopis. Reagen pertama disebut pewarna dasar/primer yang fungsinya untuk mewarnai semuasel. Untukmendapatkan warna kontras, reagen kedua yang digunakan adalah agen dekolorisasi. Berdasarkan komposisi kimia dari komponen sel, agen dekolorisasi akan melarutkan zat warna primer dari sel secara keseluruhan atau hanya pada struktur sel tertentu. Reagen terkhir yaitu pewarna penutup yang merupakan pewarna kontras dari pewarna primer. Pada waktu dekolorisasi, apabila pewarna primer tidak tercuci, warna penutup tidak dapat diserap dan sel beserta
komponennya akan terwarnai oleh pewarna primer. Jika pewarna primer tercuci, maka komponene sel menjadi transparan dan akan terwarnai oleh pewarna penutup. Dengan cara ini jenis sel atau struktur sel dapat dibedakan satu dengan lainnya berdasarkan warna yang tertinggal (diserap).
Banyak spesies bakteri gram negatif yang bersifat patogen, yang berarti mereka berbahaya bagi organisme inang. Sifat patogen ini umumnya berkaitan dengan komponen tertentu pada dinding sel gram negatif, terutama lapisan lipopolisakarida (dikenal juga dengan LPS atau endotoksin).
Berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibagi menjadi dua, yaitu, mikroskop cahaya dan mikroskop elektron. Mikroskop cahaya sendiri dibagi lagi menjadi dua kelompok besar, yaitu berdasarkan kegiatan pengamatan dan kerumitan kegiatan pengamatan yang dilakukan. Berdasarkan kegiatan pengamatannya, mikroskop cahaya dibedakan menjadi mikroskop diseksi untuk mengamati bagian permukaan dan mikroskop monokuler dan binokuler untuk mengamati bagian dalam sel. Mikroskop monokuler merupakan mikroskop yang hanya memiliki 1 lensa okuler dan binokuler memiliki 2 lensa okuler. Berdasarkan kerumitan kegiatan pengamatan yang dilakukan, mikroskop dibagi menjadi 2 bagian, yaitu mikroskop sederhana (yang umumnya digunakan pelajar) dan mikroskop riset.
Mikroskop merupakan alat optic untuk mengamati benda-benda renik (sangat kecil). Mikroskop juga disebut compound microscope, yang terdiri dari atas dua lensa positif. Lensa yang dekat dengan benda disebut lensa objektif dan lensa yang dekat dengan mata disebut dengan lensa okuler. Melihat bayangan benda dengan mikroskop berlaku hal-hal berikut :
Mata tidak terakomodasi yaitu bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif harus diletakkan pada focus lensa okuler sehingga bayangan akhir di tempat tidak terhingga
Mata berakomodasi maksimum.Bayangan yang dibentuk lensa objektif harus diletakkan di ruang 1 lensa okuler (ruang 1 adalah ruang antara pusat lensa sampai focus lensa).
B. Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah
Untuk mengetahui karakterisik bakteri gram positif dan bakteri gram negative
Untuk mengidentifikasi mikroba apakah memiliki enzim katalase atau tidak.
Untuk melihat bentuk koloni yang terdapat pada bahan dengan menggunakan mikroskop.











II. TINJAUAN PUSTAKA
Uji Katalase
Uji katalase digunakan untuk mendeteksi adanya enzim katalase. Enzim ini terdapat pada sel-sel yang mempunyai metabolisme aerobik. Bakteri anaerob tidak mempunyai enzim katalase. Reagen yang digunakan sebagai pereaksi mengandung 3% larutan Hidrogen peroksida. Enzim katalase akan bereaksi dengan hydrogen peroksida yang menghasilkan gas (oksigen). Bakteri yang positif katalase ditandai terbentuknya gelembung udara pada kaca objek (David and Janet, 2001)..
Pewarnaan Gram
Teknik pengecatan Gram dikembangkan oleh Hans Christian Gram (dokter berkebangsaan Denmark, 1884). Pengecatan Gram merupakan salah satu langkah awal mengidentifikasi sel bakteri yang memisahkan bakteri menjadi 2 kelompok yaitu bakteri Gram positif (berwarna ungu/biru) dan bakteri Gram negatif (berwarna merah)
Perbedaan 2 kelompok bakteri ini didasarkan pada kemampuan sel menahan (mengikat) warna ungu dari kristal violet selama proses dekolorisasi oleh alkohol. Bakteri gram positif tidak mengalami dekolorisasi karena tetap mengikat warna ungu kristal violet dan pada tahap akhir pengecatan tidak terwarnai safranin. Bakteri gram negatif mengalami dekolorisasi oleh alkohol dan pada tahap akhir pengecatan terwarnai menjadi merah oleh safranin.
Bakteri gram negatif memiliki 3 lapisan dinding sel. Lapisan terluar yaitu lipoposakarida (lipid) kemungkinan tercuci oleh alkohol, sehingga pada saat diwarnai dengan safranin akan berwarna merah. Bakteri gram positif memiliki selapis dinding sel berupa peptidoglikan yang tebal. Setelah pewarnaan dengan kristal violet, pori-pori dinding sel menyempit akibat dekolorisasi oleh alkohol sehingga dinding sel tetap menahan warna biru.
Pewarnaan gram dapat membedakan bakteri dalam dua kelompok
yaitu bakteri gram positif dan gram negtif. Teknik pewarnaan ini
menggunakan empat macam reagen yang berbeda yaitu:
a. Kristal violet (pewarna primer) yang digunakan pertama kali dan sel yang terwarnai akan berwarna biru keunguan (violet).
b. Gram’s Iodine (mordant), yaitu merupakan substansi yang dibuat dari campuran larutan yang kompleks, untuk memperkuat ikatan pewarna primer. Hasil dari ikatan
antara kompleks kristal violet dan iodine akan mewarnaia sel secara intensiv. Semua sel nampak biru keunguan. Pada sel gram positif kompleks kristal violet dan iodine berikatan dengan Mg-RNA yang merupakan komponen dinding sel. Gabungan antara Mg-RNA-CV-I lebih susah dicuci dibandngkan dengan kompleks CV-I.
c. Ethyl Alkohol 95% (agen pendekolorisasi), yaitu merupakan reagen yang mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pelarut lemak dan sebagai agen pendehidrasi
protein. Aksi ini dapat dideterminasi melalui jumlah lemak yang ada pada dinding sel bakteri. Pada sel gram positif, konsentrasi lemaknya rendah, hal ini menyebabkan
kompleks Mg-RNA-CV-I tertahan karena dengan jumlah lemak yang sedikit akan mudah dilarutkan oleh alkohol. Pori yang terbentuk pada dinding sel oleh larutnya lemak kecil, sehingga akan tertutup oleh protein yang terdehidrasi alkohol. Akibatnya, pewarna primer susah dicuci dan sel menjadi berwarna biru keunguan. Pada sel garam negatif, kandungan lemaknya tinggi yaitu pada membran luar dinding sel, lemak ini akan dilarutkan oleh alkohol dan menyebabkan terbentuknya pori yang lebar. Pori ini susah ditutup oleh protein membran yang terdehidrasi. Hal ini
menyebabkan ikatan kompleks CV-I lepas dan sel menjadi transparan.
d. Sfranin (warna penutup), yaitu warna terakhir yang menyebabkan warna merah pada sel, terutama sel yang telah mengalami dekolorisasi. Pada sel gram negatif,
setelah didekolorisasi, pewarna terakhir ini akan diserap. Pada sel gram positif, akan berwarna biru keunguan yaitu pewarna primer. Tahap yang paling kritis yang perlu diperhatikan dalam pewarnan gram adalah tahap dekolorisasi yang berdasarkan pada kemampuan CV-I lepas dari sel.
Mikroskop
Mikroskop merupakan salah satu alat yang penting pada kegiatan laboratorium sains, khususnya biologi. Mikroskop merupakan alat bantu yang memungkinkan kita dapat mengamati obyek yang berukuran sangat kecil (mikroskopis). Hal ini membantu memecahkan persoalan manusia tentang organisme yang berukuran kecil. (Murtini, 2002).
Mikroskop cahaya mempunyai perbesaran maksimum 1000 kali. Mikroskop mempunyai kaki yang berat dan kokoh dengan tujuan agar dapat berdiri dengan stabil. Mikroskop cahaya memiliki tiga sistem lensa, yaitu lensa obyektif, lensa okuler, dan kondensor. Lensa obyektif dan lensa okuler terletak pada kedua ujung tabung mikroskop. Lensa okuler pada mikroskop bisa berbentuk lensa tunggal (monokuler) atau ganda (binokuler). Pada ujung bawah mikroskop terdapat tempat dudukan lensa obyektif yang bisa dipasangi tiga lensa atau lebih. Di bawah tabung mikroskop terdapat meja mikroskop yang merupakan tempat preparat. Sistem lensa yang ketiga adalah kondensor. Kondensor berperan untuk menerangi obyek dan lensa-lensa mikroskop yang lain.
Pada mikroskop konvensional, sumber cahaya masih berasal dari sinar matahari yang dipantulkan dengan suatu cermin datar ataupun cekung yang terdapat dibawah kondensor. Cermin ini akan mengarahkan cahaya dari luar kedalam kondensor. Pada mikroskop modern sudah dilengkapi lampu sebagai pengganti sumber cahaya matahari. Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya bisa digunakan untuk benda yang berukuran relatif besar. Mikroskop stereo mempunyai perbesaran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan mikroskop ini dapat terlihat secara tiga dimensi. Komponen utama mikroskop stereo hampir sama dengan mikroskop cahaya. Lensa terdiri atas lensa okuler dan lensa obyektif. Beberapa perbedaan dengan mikroskop cahaya adalah: (1) ruang ketajaman lensa
Mikroskop stereo jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mikroskop cahaya sehingga kita dapat melihat bentuk tiga dimensi benda yang diamati, (2) sumber cahaya berasal dari atas sehingga obyek yang tebal dapat diamati. Perbesaran lensa okuler biasanya 10 kali, sedangkan lensa obyektif menggunakan sistem zoom dengan perbesaran antara 0,7 hingga 3 kali, sehingga perbesaran total obyek maksimal 30 kali. Pada bagian bawah mikroskop terdapat meja preparat. (Moeljanto, 2002).
Pada daerah dekat lensa obyektif terdapat lampu yang dihubungkan dengan transformator. Pengatur fokus obyek terletak disamping tangkai mikroskop, sedangkan pengatur perbesaran terletak diatas pengatur fokus.
Bekasam
Bekasam adalah produk ikan fermentasi tradisional yang pada awalnya diolah
oleh penduduk bermukim di Muara Sungai Bengawan Solo dan Surabaya, tetapi
kemudian menyebar ke Jawa Tengah, Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Produk tersebut di Kalimantan Tengah disebut dengan wadi (Moeljanto, 2002).
Pengolahan bekasam dilakukan dengan menambahkan sumber karbohidrat dan dalam kondisi anaerobik. Karbohidrat didekomposisi melalui proses fermentasi menjadi gula-gula sederhana dan kemudian dikonversi menjadi alkohol dan asam yang berperan sebagai pengawet dan memberikan rasa dan bau spesifik pada bekasam. Bekasam disajikan dengan membumbuinya menggunakan cabai dan gula (Murtini, 2002).
Pada dasarnya, semua ikan air tawar dapat diolah menjadi bekasam, tetapi setiap daerah mempunyai pertimbangan tersendiri di dalam memilihi jenis ikan air tawar yang digunakan sebagai bahan mentah. Ikan yang telah umum digunakan untuk pengolahan bekasam adalah ikan lele, ikan mas, bader, nila, mujahir (Afrianto dan Liviawaty, 2000).
Mutu bekasam dapat diperbaiki dengan menambahkan kultur starter bakteri asam laktat. Murtini et al. (2001) menggunakan bagian cairan dari asinan sawi dan kubis sebagai sumber bakteri asam laktat pada pembuatan bekasam ikan gurami. Penggunaan kedua jenis cairan asinan sebagai sumber bakteri asam laktat secara nyata mempengaruhi jumlah bakteri asam laktat dan total koloni bakteri anaerob awal, dimana cairan tersebut menyebabkan jumlah koloni kedua jenis bakteri lebih tinggi. Kadar asam laktat bekasam meningkat tajam pada fermentasi minggu kedua dan kemudian cenderung menurun. Nilai pH bekasam cenderung konstan sampai fermentasi minggu keempat dan fermentasi lebih lanjut menghasilkan peningkatan nilai pH produk yang mungkin disebabkan oleh penurunan kecepatan pembentukan asam laktat dan meningkatnya kecepatan senyawa bersifat basa. Penambahan asinan sawi menghasilkan produk yang secara organoleptik lebih baik, khususnya dalam hal warna. Selama penyimpanan delapan minggu, bekasam yang diolah dengan menggunakan metoda ini masih tetap disukai sampai akhir penyimpanan.






















III.  PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A.  Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Umum Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Indralaya. Pada hari Jum’at 16 Desember 2011, pukul 13.00 WIB.
B.  Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu: 1) beaker  glass, 2) bunsen, 3) jarum ose, 4) kaca preparat, 5) kaca objek, 6) pipet mikro, 7) pipet tetes, 8) spray alkohol, 9) tabung reaksi 10) cawan petri 11) media 12) erlenmeyer 13) lamina flow 14) auto clave 15) inkubator.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu: 1) Bekasam, 2) Cuka, 3) Lactobacillus, 4) Strepococcus.
C.  Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum ini, adalah sebagai berikut :
A. Pewarnaan gram
Persiapkan dahulu alat-alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum.
Ambil bakteri di dalam media dengan menggunakan jarum ose dan oleskan pada kaca preparat.
Tetesi bakteri tersebut dengan ultra violet sebanyak 2 tetes.
Siram dengan aquadest.
Tetesi dengan larutan iodin 2 tetes.
Semprot dengan aquadest.
Semprot dengan alkohol
Semprot dengan aquadest
Semprot dengan safranin
Semprot dengan aquadest
B. Uji katalase
1. Bakteri diambil dengan jarum ose
2. Dioleskan pada kaca preparat
3. Tetesi dengan larutan H2O2 3% sebanyak 2 tetes.
4. Tutup dan ada tidaknya gelembung udara.
C. Mikroskop
1. Bakteri diambil dengan jarum ose
2. Dioleskan pada kaca preparat
3. Bakteri di amati dengan menggunakan bantuan mikroskop
4. Bakteri yang terlihat di gambar

















B.  Pembahasan
Mikroorganisme dibagi menjadi 2 golongan besar berdasarkan perbedaan dinding selnya, yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Praktikum ini akan membahas 2 metode yang dapat dilakukan untuk mengetahui apakah bakteri tersebut merupakan gram positif ataupun gram negatif.
Mikroorganisme mampu merombak lingkungannya dan menggunakan bahan kimia sebagai sumber energi dan faktor pertumbuhan serta reproduksinya. Semua aktivitas sel dibantu oleh enzim, bahkan dalam pemecahan bahan kimia kompleks menjadi bahan yang lebih sederhana melibatkan banyak enzim yang bekerja saling bertautan. Hal itu juga karena kerja enzim adalah sangat spesifik, satu jenis enzim umumnya hanya mampu bereaksi dengan satu jenis bahan. Hasil dari reaksi
enzimatis dapat diukur atau hilangnya suatu bahan pada media dapat dideteksi.
Katalase adalah enzim yang terdapat pada hampir semua bakteri. Enzim itu bertindak sebagai katalisator dalam pemecahan hidrogen peroksida dan menghasilkan oksigen. Enzim katalase paling banyak dihasilkan oleh bakteri obligat aerob, tetapi tidak dihasilkan oleh bakteri obligat anaerob.
Uji katalase digunakan untuk mengetahui aktivitas katalase pada bakteri yang diuji. Kebanyakan bakteri memproduksi enzim katalase yang dapat digunakan untuk memecah H2O2 menjadi H2O dan O2. Enzim katalase diduga penting untuk pertumbuhan aerobik karena H2O2 yang dibentuk dengan pertolongan berbagai enzim pernapasan bersifat racun terhadap sel mikroba. Bakteri katalase positif bisa menghasilkan gelembung-gelembung oksigen karena adanya pemecahan H2O2 oleh enzim katalase yang dihasilkan oleh bakteriitu sendiri. Komponen H2O2 ini merupakan salah satu hasil respirasi aerobik bakteri, yang mana hasil respirasi tersebut justru dapat menghambat pertumbuhan bakteri karena bersifat toksok bagi
bakteri itu sendiri. Oleh karena itu, komponen ini harus dipecah lagi agar tidak bersifat toksik lagi. Bakteri katalase negatif tidak menghasilkan gelembung-gelembung. Hal ini berarti H2O2 yang diberikan tidak dipecah oleh bakteri katalase negatif sehingga tidak menghasilkan oksigen. Bakteri katalase negatif tidak mempunyai enzim katalase yang menguraikan H2O2.
Mekanisme enzim katalase memecah H2O2 yaitu saat melakukan respirasi, bakteri menghasilkan berbagai macam komponen salah satunya adalah H2O2. Bakteri yang memiliki kemampuan memecah H2O2 dengan enzimkatalase maka segera membentuk suatu sistem pertahanan dari toksik H2O2 yang dihasilkannya sendiri. Bakterikatalase positif akan memecah H2O2 menjadi H2O dan O2 yang mana parameter yang menunjukkan adanya aktivitas katalase tersebut adalah adanya gelembung gelembung oksigen.
Berdasarkan uji katalase yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa bekasam adalah bakteri gram positif karena mampu memecah H2O2 menjadi oksegen dan gas hidrogen sehingga terlihat gelembung udara disekitar bakteri ini.
Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah salah satu teknik pewarnaan yang paling penting dan luas yang digunakan untuk mengidentifikasi bakteri. Dalam proses ini, olesan bakteri yang sudah terfiksasi dikenai larutan-larutan berikut : zat pewarna kristal violet, larutan yodium, larutan alkohol, dan zat pewarna berupa zat warna safranin. Bakteri yang terwarnai dengan metode ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bakteri Gram Positif dan Bakteri Gram Negatif. Bakteri Gram positif akan mempertahankan zat pewarna kristal violet dan karenanya akan tampak berwarna ungu tua di bawah mikroskop. Adapun bakteri gram negatif akan kehilangan zat pewarna kristal violet setelah dicuci dengan alkohol, dan sewaktu diberi zat pewarna yaitu dengan zat pewarna safranin akan tampak berwarna merah. Perbedaan warna ini disebabkan oleh perbedaan dalam struktur kimiawi dinding selnya. Dari uji pewarnaan gram yang telah dilakukan diketahui bahwa bekasam merupakan bakteri gram positif, hal ini dapat dari warnanya yang berwarna biru keunguan.
Jenis paling umum dari mikroskop, dan yang pertama diciptakan, adalah mikroskop optis. Mikroskop ini merupakan alat optik yang terdiri dari satu atau lebih lensa yang memproduksi gambar yang diperbesar dari sebuah benda yang ditaruh di bidang fokal dari lensa tersebut. Berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibagi menjadi dua, yaitu, mikroskop cahaya dan mikroskop elektron. Mikroskop cahaya sendiri dibagi lagi menjadi dua kelompok besar, yaitu berdasarkan kegiatan pengamatan dan kerumitan kegiatan pengamatan yang dilakukan. Berdasarkan kegiatan pengamatannya, mikroskop cahaya dibedakan menjadi mikroskop diseksi untuk mengamati bagian permukaan dan mikroskop monokuler dan binokuler untuk mengamati bagian dalam sel. Mikroskop monokuler merupakan mikroskop yang hanya memiliki 1 lensa okuler dan binokuler memiliki 2 lensa okuler
Baik lensa objektif maupun lensa okuler keduanya merupakan lensa cembung. Secara garis besar lensa objektif menghasilkan suatu bayangan sementara yang mempunyai sifat semu, terbalik, dan diperbesar terhadap posisi benda mula-mula, lalu yang menentukan sifat bayangan akhir selanjutnya adalah lensa okuler. Pada mikroskop cahaya, bayangan akhir mempunyai sifat yang sama seperti bayangan sementara, semu, terbalik, dan lebih lagi diperbesar. Pada mikroskop elektron bayangan akhir mempunyai sifat yang sama seperti gambar benda nyata, sejajar, dan diperbesar.
Mikroskop yang kita gunakan dalam pengamatan ini adalah mikroskop cahaya. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa bentuk bakteri pada bekasam adalah bulat atau basil.












V. KESIMPULAN
Setelah melakukan beberapa percobaan dalam praktikum ini, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu :
Mikroorganisme dibagi menjadi 2 golongan besar berdasarkan perbedaan dinding selnya..
Kebanyakan bakteri memproduksi enzim katalase yang dapat digunakan untuk memecah H2O2 menjadi H2O dan O2
Bakteri gram positif ditandai dengan gelembung pada uji katalase.
Bakteri gram positif berwarna unguatau biru setelah pewarnaan, sedangkan gram negative berwarna merah
Bakteri pada bekasam merupakan bakteri gram positif.
Mikroskop yang biasa digunakan adalah mikroskop cahaya yang sederhana.









DAFTAR PUSTAKA
Afrianto dan Liviawaty.2000. Foodborne Microorganisms of Public Health
Significance. 4ed.AIFST (NSW Branch).Australia.
David and Janet.2001. Mikrobiologi umum. UMM Press, Malang.
Moeljanto.2002. Uji Gram.  Universitas Indonesia.  Jakarta.
Murtini et al.2001. Pengecatan Gram. Universitas Jenderal Soedirman,. Fakultas
Pertanian. Purwokerto.
Murtini.2002. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan : Jakarta.
Pradhika. 2008. Uji Katalase. (online) (http://ekmon-saurus.blogspot.com/ diakses tanggal 19 desember 2011).
Suryawira.2000. Petunjuk PraktikumMikrobiologi Dasar. Surabaya: Unesa Press.

pencarian lain